DESA REJOTANGAN

Desa Rejotangan adalah salah satu desa yang berada di Kabupaten Tulungagung. Desa ini juga menjadi ibukota kecamatan dari Kecamatan Rejotangan. Lokasinya berada di sisi sebelah timur wilayah Kabupaten Tulungagung.

Secara geografis, Desa Rejotangan berbatasan dengan Kabupaten Blitar di sebelah utara dan timur. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Aryojeding, dan di sebelah selatan berbatasan dengan wilayah Desa Sumberagung, Desa Blimbing, dan Desa Pakisrejo.

Di Desa ini terdapat kantor Kecamatan Rejotangan dan Stasiun Kereta Api Rejotangan yang letaknya berdekatan dengan Pasar Desa Rejotangan.

Desa Rejotangan memiliki sejumlah potensi pertanian. Pertanian pangan berupa sawah padi masih mendominasi usaha agraris masyarakat. Salah satu yang menarik ialah kampung belimbing, yakni kawasan desa yang menjadi sentra buah belimbing. Hampir seluruh warga di kawasan ini menanam belimbing yang hasilnya dipasok ke sejumlah kawasan di Kecamatan Rejotangan dan sekitarnya.

Hasil panen belimbing dari warga juga dipasok sebagai bahan utama membuat sari buah belimbing dan manisan belimbing yang diproduksi oleh Usaha Bersama Komunitas (UBK) Sumber Mulya. Produk-produknya sudah diedarkan ke masyarakat meskipun masih dalam jumlah terbatas.

Desa Rejotangan juga menjadi salah satu sentra pembuatan tas kulit. Salah satu warga desa memproduksi aneka ragam tas berbahan kulit yang diproduksi secara massal setiap hari. Produk-produknya bahkan telah menjangkau pasaran luar negeri di kawasan Asia Tenggara.

Sejarah

Pada tahun 1825-1830 di Kesultanan Surakarta terjadi perpecahan di mana Sultan bekerjasama dengan Belanda, sehingga rakyat yang anti dengan Belanda tidak lagi mentaati kepemimpinan sultan. Rakyat yang anti dengan Belanda mengadakan perlawanan yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Karena tertipu muslihat Belanda, Pangeran Diponegoro dan bala tentaranya berhasil ditangkap pasukan Belanda. Namun ada beberapa laskar yang lolos dan lari mengungsi untuk menyelamatkan diri menuju Ponorogo. Kendatipun demikian, mereka sudah berusaha mengungsi ke tempat yang lebih jauh namun para laskar tersebut belum aman, karena masih dikejar-kejar oleh pasukan Belanda sampai ke Ponorogo. Agar tidak diketahui oleh pasukan Belanda, laskar tersebut melanjutkan pelariannya ke daerah yang dipandang aman. Beberapa laskar yang lari tersebut di antaranya yaitu Kiai Ngabdun, Karto Taruno, Sawijoyo, Manguntari, dan Setromenggolo.

Mereka memutuskan mengungsi ke arah timur sampai ke daerah kali Lembu Peteng untuk beristirahat. Kemudian mencari tempat ibadah di masjid Mangunsari. Disitu mereka bertemu dengan Kiai Tawang Sari dan menceritakan apa yang terjadi di Kartosuro (Surakarta) bahwa Kanjeng Sultan berpihak kepada Belanda dan rakyat dikerjakan rodi dengan kejam , maka terjadilah perpecahan di Keraton sendiri yang dipimpin oleh Diponegoro dan kalah kemudian melarikan diri karena dikejar terus oleh Belanda.

 

Oleh karena para Kiai Mangunsari juga antisipasi dengan penjajahan Belanda dan merasa kasihan , maka para laskar tersebut disuruh menempati tanah gitik Lembu Peteng (tanah kosong) . Disitulah mulai membuat tempat tinggal , selanjutnya secara diam-diam warga simpatisan Diponegoro diboyong ke tempat tersebut . Dalam waktu yang cukup singkat tempat tersebut ramai oleh sisa-sisa laskar yang berbaur dengan warga setempat , yaitu orang-orang Mataram.

Sehingga sampai sekarang terkenal dengan blok Njotangan,lokasinya didesa Plandaan di tepi Kali Lembu Peteng . Keadaan tersebut ternyata tercium oleh pihak Belanda , dan akhirnya mereka menjadi kejar-kejaran pihak Belanda . Atas kondisi itu para pemimpin laskar tersebut memutuskan untuk pergi mencari tempat yang lebih aman . Mereka kemudian naik perahu menyusuri Kali Brantas ke arah timur , dan disuatu tempat yang sekarang disebut dengan Dusun Pundensari , karena mereka menemukan sebuah pepunden yang ternyata adalah makam Kiai Ageng Sungguruh.

Kemudian mereka melaporkan penemuan tersebut ke Kiai Mangunsari , dan bersama Punggowo kadipaten menuju ke tempat tersebut dan ternyata tempat tersebut bekas Keraton Ariyoblitar . Oleh Kiai Ngabdun tempat tersebut diminta untuk dihuni dan digunakan untuk tempat tinggal . Oleh Kiai Tawangsari diberi izin dan nanti apabila ramai tempat tersebut diberi nama Pundensari , atau orang Tawangsari menemukan Punden. Selang bebrbapa waktu keluarga Njotangan banyak yang datang ke Pundensari dan ini merupakan awal tempat tinggal mereka sekarang (Masjid Al Falah Pundensari).

Sebagai pendatang baru dari Mataram , Kiai Ngabdun disarankan untuk menebang hutan . Pada waktu menebang hutan menemukan Prasasti SITIHINGGIL yang bertuliskan bekas Kadipaten Ariyoblitar . Untuk memperluas tempat tinggal baru para pendatang , Karto Taruno dan Manguntari memimpin penebangan hutan tersebut diberi nama Karang Kates , kalau sekarang menjadi Dusun Kates . Babad hutan tersebut semakin kearah Barat , dipimpin leh Tardjo Bonari menemukan Besalen atau Pandean yang ada dibawah Pohon Kepoh Jejer dua dan terdapat tulisan Pajajaran , sekarang Dusun Jajar. 

Babd hutan juga sampai ke wilayah sbelah baratnya , sekarang sekitar pasar Rejotangan , dimana babd hutan tersebut dipimpin oleh Mbah Man Tokid , karena sebgaian besar penghuninya adalah laskar pelarian dari wilayah Njotangan, sekitar Lembu Peteng , atas sran Kiai Ngabdun mereka  memberi nama tempat tersebut dengan nama Blok Njotangan, setelah wilayah yang lain mempunyai nama sendiri. Ternyata Belanda smapi juga ke wilayah ini dan membuat jalan Tulungagung- Blitar , karena ada peninggalan Ariyoblitar disitu.

Para tokoh tidak brsedia apabila tempat tersebut dimasukkan ke Kadipaten Blitar. Maka terjadi pertikaian dan akhirnya daerah Rejotangan masih tetap menjadi wilayah Tulungagung. Setelah itu Bupati R.M.P Sumardirono mengangkat demang pertama yang tidak hanya mewilayah tempat blok saja. Atas kesepakatan warga maka demangnya adalah Karto Taruno. Untuk menjaga keselamatan rakayt yang berasal dari pengungsi Mataram dan juga untuk mengingat sejarah dari Njotangan , maka desa ini disebut Rejotangan , ramai pendatang dari Njotangan . Setelah lahir UUHIR Belanda desa ini diberi nama Rejotangan.

Wilayah Desa

0
Dusun
0
Rukun warga
0
Rukun tetangga
Wilayah Dusun
Batas Wilayah

Visi & Misi

Mewujudkan Desa Rejotangan yang makmur sejahtera perekonomiannya, guyub rukun sosial masyarakatnya, dan religius mengabdi kepada Tuhan warganya.

1. Membangun infrastruktur desa melalui APBDES yang transparan demi kesejahteraan warga.

2. Meningkatkan peran lembaga desa dan pemuda sebagai penggerak pembangunan desa.

3. Meningkatkan fasilitas pendidikan dasar umum dan keagamaan yang bermutu dan terjangkau untuk warga.

Perangkat Desa

Aparat desa Tulungagung periode 2019-2024

Andhi Mutojo

Kepala Desa

Asiyono

Kasun Pundensari

Suyani

Kasun Jajar

Setyo Edi

Kasun Rejotangan

Mesiyah

Kasi Pelayanan

Samsuri

Kasun Kates

Salis Mutmainatus Sahro

Kaur Umum & Tata Usaha

Papik Pinasrikah

Kaur Keuangan

Dino Bintoro

Kaur Perencanaan

Sri Wulan Larasati

Sekretaris Desa

Nurhadi Susanto

Kasi Kesejahteraan

Ingin tahu statistik desa?

Semua data statistik tentang desa